Nasional
Home » Berita » 80 Koperasi Merah Putih Ditempa Tantangan Ekstrem Kepulauan MBD

80 Koperasi Merah Putih Ditempa Tantangan Ekstrem Kepulauan MBD

TIAKUR, Balobe.com – Di atas gelombang Laut Banda yang tak bersahabat, kapal-kapal pengangkut besi dan pasir berjuang mencapai dermaga-dermaga kecil yang tersebar di 14 pulau berpenghuni Kabupaten Maluku Barat Daya. Di darat, ratusan warga setempat mengangkut material dengan tangan dan gerobak menuju fondasi-fondasi yang tengah tumbuh. Itulah wajah nyata program pembangunan 80 Koperasi Desa Merah Putih yang saat ini dikebut penyelesaiannya di salah satu wilayah paling terpencil di Indonesia.

Pembangunan 80 koperasi desa di Kabupaten Maluku Barat Daya berpacu melawan alam: laut ganas, pulau terisolasi, dan material yang harus diterbangkan dari Pulau Jawa.

Komandan Kodim 1511/Pulau Moa, Letkol Inf Nuriman Siswandi, memastikan proyek tersebut terus berjalan meski menghadapi sejumlah hambatan berat. Berdasarkan hasil survei dan pemetaan lahan, sebanyak 80 titik telah teridentifikasi siap dibangun di seluruh penjuru Maluku Barat Daya (MBD). Program ini merupakan bagian dari strategi nasional memperkuat ekonomi desa di kawasan tertinggal, terdepan, dan terluar (3T).

Pembangunan dijalankan dengan metode karya bakti padat karya, yakni dengan merekrut warga setempat sebagai tenaga kerja langsung di lapangan. Mulai dari penggalian fondasi hingga pengerjaan struktur dasar bangunan, masyarakat dilibatkan secara aktif. Pendekatan ini dinilai efektif ganda: mempercepat pekerjaan sekaligus menyuntikkan pendapatan langsung ke kantong warga desa.

Sosialisasi yang dilakukan Kodim bersama pemerintah kabupaten dan desa mendapat respons hangat dari masyarakat setempat. Menurut Nuriman, koperasi ini dirancang menjadi pusat gravitasi ekonomi desa menampung hasil produksi lokal, mendistribusikan barang kebutuhan pokok, hingga menjadi simpul layanan jasa di wilayah yang selama ini terisolir.

“Koperasi ini akan menjadi penggerak ekonomi desa, terutama di wilayah terpencil. Aktivitas ekonomi bisa tumbuh dari desa dan memberikan manfaat langsung bagi masyarakat.” kata Nuriman Siswandi

TMMD Respon Krisis Air Peternak Dusun Poliwu

Namun di balik optimisme itu, kenyataan lapangan jauh dari mudah. Maluku Barat Daya terdiri dari 48 pulau yang tersebar di lautan luas, dengan hanya 14 di antaranya berpenghuni dan menjadi lokasi pembangunan. Infrastruktur pelabuhan di banyak pulau tidak mampu menampung kapal-kapal besar. Kapal pengangkut terpaksa melakukan bongkar muat bertahap, dan material kemudian diangkut lagi menggunakan alat transportasi tambahan menuju lokasi pembangunan yang kerap terpencil.

Sumber: Redaksi Balobe

Ketersediaan material lokal pun menjadi batu sandungan. Di sejumlah pulau, bahan bangunan dasar seperti batu, pasir, dan kerikil nyaris tidak tersedia dan harus didatangkan dari luar daerah. Lebih jauh lagi, material struktur bangunan atas seperti baja dan besi harus dipasok dari luar Maluku, bahkan dari Pulau Jawa sebuah perjalanan logistik yang panjang, mahal, dan penuh risiko.

Musim barat memperburuk situasi. Gelombang tinggi yang mengiringi angin musim barat kerap menghentikan proses pengiriman material, bahkan merusak muatan yang sudah di tengah perjalanan. Tidak jarang, kapal pengangkut harus berlabuh di pelabuhan antara menunggu cuaca membaik sebelum melanjutkan perjalanan ke pulau tujuan.

“Dalam beberapa kasus, material tidak bisa langsung diturunkan, bahkan ada yang rusak akibat cuaca buruk saat proses pengiriman.” jujurnya

Pergantian BPD Rotnama Dipersoalkan, Administrasi Dinilai Cacat

Meski demikian, Nuriman memastikan sebagian material telah tiba di lokasi dan pekerjaan fisik sudah berjalan. Sisanya masih dalam proses pengiriman secara bertahap. Kodim 1511/Pulau Moa menargetkan seluruh pembangunan dapat berjalan efektif dan rampung tepat waktu sesuai spesifikasi teknis yang telah ditetapkan.

Kepada Balobe, Nuriman mengungkapkan tantangan terbesar bukan semata soal logistik, melainkan soal konsistensi komitmen semua pihak di tengah kondisi alam yang keras.

“Wilayah MBD terdiri dari 48 pulau, dengan 14 pulau berpenghuni yang menjadi lokasi pembangunan. Kondisi ini menjadi tantangan utama dalam distribusi material.” ungkap Letkol Inf Nuriman Siswandi Dandim 1511/Pulau Moa, di Tiakur, Rabu (18/3/2026)

Ia juga menekankan pentingnya keterlibatan pemerintah daerah dan masyarakat dalam memastikan koperasi yang dibangun kelak benar-benar dimanfaatkan, bukan sekadar berdiri sebagai bangunan kosong.

“Setiap titik pembangunan melibatkan sekitar 10 hingga 30 tenaga kerja lokal. Ini menjadi bagian dari upaya memberdayakan masyarakat sekaligus mempercepat pekerjaan.” tegas Dandim

TMMD Moain Hari Ke-11, Sumur Bor Hampir Selesai

Di ujung percakapan, Nuriman menitipkan harapan yang sederhana namun sarat makna. Bagi prajurit yang bertugas di salah satu wilayah paling terpencil di Nusantara itu, koperasi merah putih bukan sekadar proyek fisik ia adalah janji negara kepada warga yang selama ini hidup di pinggiran perhatian.

“Harapannya, koperasi ini benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat desa dan menjadi penggerak ekonomi di wilayah kepulauan,” ujar Nuriman. Di balik kata-kata itu, 80 fondasi baru sedang dituang di pulau-pulau yang jarang terpetakan, diiringi deburan ombak yang tak pernah berhenti.

BALOBE.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung BALOBE.com di Akun Media Sosial dan di Whatsapp Chanel sekarang

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

× Advertisement
× Advertisement