Ekonomi
Home » Berita » Rokok Hingga Skincare Menjadi Penyumbang Garis Kemiskinan Versi BPS

Rokok Hingga Skincare Menjadi Penyumbang Garis Kemiskinan Versi BPS

Beras Tetap Dominan, Rokok Kretek Filter Posisi Kedua dalam Perhitungan Kemiskinan Nasional. Foto: Ilustrasi Freepick

 

Tiakur, BalobeNews.com – Badan Pusat Statistik (BPS) merilis daftar komoditas penyumbang garis kemiskinan nasional yang menunjukkan fakta mengejutkan. Selain beras sebagai kebutuhan pokok utama, rokok kretek filter dan bahkan produk perawatan kulit (skincare) turut berkontribusi signifikan dalam perhitungan standar hidup minimum masyarakat Indonesia.

 

Berdasarkan data terbaru BPS, garis kemiskinan nasional pada Maret 2025 ditetapkan sebesar Rp609.160 per kapita per bulan. Persentase penduduk miskin pada periode yang sama tercatat 8,47 persen, turun 0,10 poin persentase dari September 2024.

 

Musrenbang RKPD Maluku Fokus Pembangunan Ekonomi 2026

Fakta Kontroversial di Balik Angka Kemiskinan

Data BPS mengungkap bahwa beras mendominasi kontribusi garis kemiskinan dengan persentase 21,06 persen di perkotaan dan 24,91 persen di perdesaan. Yang mengejutkan, rokok kretek filter menempati posisi kedua dengan kontribusi 10,72 persen di perkotaan dan 9,99 persen di perdesaan.

 

Lebih menarik lagi, produk perawatan kulit, muka, kuku, dan rambut (skincare) masuk dalam daftar penyumbang garis kemiskinan dengan kontribusi 0,79 persen di perkotaan dan 0,73 persen di perdesaan.

 

Tol Laut Jaga Stabilitas Harga Sembako di MBD, Dua Trayek Layani Distribusi

Analisis Mendalam Komoditas Penyumbang Kemiskinan

Dominasi Makanan Pokok dan Rokok

Dalam kategori komoditas makanan perkotaan, urutan lima besar penyumbang garis kemiskinan adalah beras (21,06%), rokok kretek filter (10,72%), telur ayam ras (4,5%), daging ayam ras (4,22%), dan mi instan (2,47%). Sementara itu, kopi bubuk dan kopi instan dalam kemasan sachet menyumbang 2,29 persen.

 

Di wilayah perdesaan, pola serupa terjadi dengan beras memimpin (24,91%), diikuti rokok kretek filter (9,99%), telur ayam ras (3,62%), daging ayam ras (2,98%), dan gula pasir (2,4%).

Beras 60-80 Ton Tiba di MBD Melalui Tol Laut, Dijual di Toko Mitra Mandiri Kaiwatu

 

Komoditas Non-Makanan: Perumahan hingga Skincare

Untuk kategori non-makanan, perumahan menduduki peringkat teratas dengan kontribusi 9,11 persen di perkotaan dan 8,99 persen di perdesaan. Bensin menempati posisi kedua dengan 3,06 persen di perkotaan dan 3,03 persen di perdesaan.

 

 

Yang menarik perhatian adalah masuknya produk skincare dalam daftar penyumbang garis kemiskinan. Hal ini menunjukkan bahwa produk perawatan kulit telah menjadi bagian dari kebutuhan dasar masyarakat Indonesia, terutama di wilayah perkotaan.

 

“Rokok ini selalu menempati posisi kedua” dalam kontribusi garis kemiskinan, demikian pernyataan Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti dikutip melalui akun Xnya Pejabat BPS juga menekankan bahwa data ini menggambarkan pola konsumsi masyarakat yang dijadikan acuan dalam menentukan standar hidup minimum.

 

Terkait metodologi perhitungan, BPS menjelaskan bahwa sekitar 345.000 rumah tangga dijadikan sampel dalam survei Maret 2025 untuk mendapatkan gambaran akurat tentang pengeluaran masyarakat.

 

Implikasi Kebijakan dan Tantangan Sosial

Data BPS ini mengungkap realitas kompleks masyarakat Indonesia, di mana kebutuhan dasar tidak hanya terbatas pada pangan dan papan, tetapi juga mencakup produk konsumsi seperti rokok dan perawatan diri. Tingginya kontribusi rokok dalam garis kemiskinan menunjukkan perlunya evaluasi kebijakan cukai dan edukasi kesehatan masyarakat.

 

Sementara itu, masuknya skincare dalam daftar komoditas penyumbang kemiskinan mencerminkan perubahan gaya hidup dan standar kebutuhan masyarakat urban Indonesia. Hal ini menuntut pendekatan kebijakan yang lebih komprehensif dalam mengatasi kemiskinan, tidak hanya fokus pada kebutuhan dasar tradisional.

 

Meski angka kemiskinan nasional turun menjadi 8,47 persen, BPS mencatat tingkat kemiskinan di desa menurun 0,31 persen sedangkan di kota meningkat 0,07 persen, menunjukkan masih adanya tantangan dalam pemerataan pembangunan ekonomi antara wilayah urban dan rural. (Nad)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

× Advertisement
× Advertisement