Ekonomi
Home » Berita » Tanda Tanya Angka Pertumbuhan Ekonomi BPS

Tanda Tanya Angka Pertumbuhan Ekonomi BPS

Data pertumbuhan ekonomi kuartal II 2025 yang dirilis Badan Pusat Statistik dinilai janggal oleh banyak ekonom. Mereka menduga ada penghalusan angka demi kepentingan politik.

 

Tiakur, BalobeNews.com – Keraguan kini membayangi angka pertumbuhan ekonomi Indonesia. Pada Selasa, 5 Agustus 2025, Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan pertumbuhan ekonomi nasional pada kuartal II 2025 sebesar 5,12 persen secara tahunan. Tapi sejumlah ekonom dan akademikus menilai angka tersebut tidak mencerminkan kondisi riil di lapangan.

 

Badan Pusat Statistik kini disorot banyak orang.
Sebab, data pertumbuhan ekonomi yang dirilis lembaga pemerintah itu dirasa janggal oleh para ekonom dan akademikus. Mereka kini menilai BPS selaku otoritas pemegang data ekonomi tak bisa dipercaya setelah mengeluarkan angka yang terlampau fantastis. Menurut perhitungan para ekonom, angka itu tidak masuk akal.

Musrenbang RKPD Maluku Fokus Pembangunan Ekonomi 2026

 

Pada Selasa, 5 Agustus 2025, BPS menyatakan pertumbuhan ekonomi triwulan II 2025 sebesar 5,12 persen dibanding periode yang sama pada 2024. Dibanding triwulan pertama lalu, pertumbuhan ekonomi tercatat sebesar 4,87 persen.

 

BPS mencatat produk domestik bruto atau PDB pada triwulan II 2025 sebesar Rp 5.947 triliun (atas dasar harga berlaku) dan Rp 3.396,3 triliun (atas dasar harga konstan).

 

Tol Laut Jaga Stabilitas Harga Sembako di MBD, Dua Trayek Layani Distribusi

Menurut BPS, pertumbuhan ekonomi didorong peningkatan aktivitas domestik, terutama konsumsi rumah tangga dan industri pengolahan atau manufaktur.
Konsumsi rumah tangga bertumbuh 4,97 persen secara tahunan dengan kontribusi 54,25 persen terhadap PDB.

Pertumbuhan konsumsi didorong oleh meningkatnya kebutuhan bahan makanan dan minuman, transportasi, serta restoran selama libur hari raya keagamaan serta libur sekolah. Sedangkan industri manufaktur menyumbang pertumbuhan PDB dengan kontribusi 18,67 persen.

 

Di sini letak persoalannya. Sejumlah ekonom menyoroti adanya ketidaksesuaian data BPS dengan indikator kinerja manufaktur, yaitu purchasing manager indeks (PMI) yang diterbitkan lembaga konsultan S&P Global. Data S&P Global menunjukkan PMI berada di bawah 50 atau terkontraksi sepanjang kuartal II-2025, yakni 46,7 pada April, 47,4 pada Mei, dan turun ke 46,9 pada Juni. Sebaliknya, BPS menyatakan industri pengolahan bertumbuh.

Padahal, pada saat yang sama, terjadi kelesuan di sektor industri tekstil dan alas kaki, yang berujung pada pemutusan hubungan kerja massal.

Beras 60-80 Ton Tiba di MBD Melalui Tol Laut, Dijual di Toko Mitra Mandiri Kaiwatu

 

Tanda tanya juga ada pada indikator konsumsi. Jika menurut BPS konsumsi bertumbuh, para ekonom melihat hal yang sebaliknya karena data belanja pada hari raya keagamaan tahun ini cenderung menurun dibanding pada 2024. Di lain pihak, dalam sebuah diskusi di Jakarta pada 5 Agustus 2025, Dewan Ekonomi Nasional memberi sinyal waspada terhadap praktik judol alias judi online yang memperlambat pertumbuhan ekonomi pada 2024. Seiring dengan transaksi judol yang cenderung naik, apakah pertumbuhan ekonomi bisa melejit?

 

Pertanyaan-pertanyaan ini memunculkan syak wasangka, data BPS direkayasa sedemikian rupa demi pencitraan politik. Ingat, beberapa hari lagi, tepatnya menjelang hari peringatan kemerdekaan, Presiden Prabowo Subianto akan memaparkan nota keuangan.

 

 

Pidato ini akan menyinggung sejumlah indikator, termasuk realisasi pertumbuhan ekonomi. Apa benar, Istana kurang nyaman jika pertumbuhan ekonomi pada tahun pertama kepemimpinan Prabowo berada di bawah 5 persen, angka minimal yang dicapai pada pemerintahan sebelumnya? (OM-26)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

× Advertisement
× Advertisement