TIAKUR, Balobe.com – Unit Pelaksana Teknis Daerah Kesatuan Pengelolaan Hutan Maluku Barat Daya (UPTD KPH MBD) meluncurkan program inovatif penanaman padi gogo di Desa Persiapan Poliwu, Pulau Moa, tanpa dukungan anggaran. Pegawai dan kelompok tani hutan bekerja sama secara sukarela, bahkan patungan biaya untuk obat pembasmi lalang demi mewujudkan ketahanan pangan masyarakat.
Kepala UPTD KPH MBD, Ace Kelabora, menjelaskan bahwa kegiatan penanaman padi gogo ini murni inisiatif inovatif karena tidak ada alokasi anggaran dalam Dokumen Pelaksanaan Anggaran (DPA) baik di KPH, Dinas Kehutanan, maupun instansi terkait lainnya.
“Anggaran ini tidak ada dalam DPA, baik kami di KPH atau Dinas Kehutanan ataupun instansi yang lain yang terkait dengan KPH khusus untuk penanaman padi gogo di Pulau Moa di Desa Persiapan Poliwu. Jadi, itu merupakan kegiatan inovasi,” jelas Ace kepada BalobeNews di ruang kerjanya, Jumat (6/2/2026).
Untuk merealisasikan program ini, KPH MBD menjalin kerja sama dengan Balai Modernisasi Pertanian di Ambon. Setelah menerima surat permohonan, balai tersebut menyalurkan bantuan bibit padi gogo sebanyak 50 kilogram yang kemudian didistribusikan kepada Kelompok Tani Hutan (KTH) Anugerah Poliwu.
“Itu hanya bibit padinya, tidak ada yang lain. Lalu kemudian kami berkoordinasi dengan pihak KTH dalam hal ini Ketua Kelompok Pendeta Eli Kristian di Desa Persiapan Poliwu dan berkoordinasi bicara dengan anggota kelompok yang bersedia untuk tanam,” ungkapnya.
Ace mengakui beban berat yang harus ditanggung kelompok tani karena tidak ada biaya untuk penyaluran, penanaman, maupun upah petani. Namun, semangat kelompok tani untuk menggarap lahan seluas hampir 1,5 hektare tetap tinggi.
“Agak berat karena kegiatan persiapan lahan, kegiatan untuk penanaman segala macam tidak dibayar. Tetapi mereka kelompok dengan semangat bersedia untuk melakukan penanaman padi gogo,” katanya.
Lokasi penanaman juga dikembangkan sebagai kawasan agroforestri dengan menanam pohon kehutanan seperti mahoni, linggua, makila, serta tanaman produktif seperti mangga, rambutan, lengkeng, jeruk, nangka, dan sukun dari kebun bibit KPH. Penanaman perdana dilaksanakan pada 17 Desember 2025.
Untuk penyiapan lahan, KPH membutuhkan obat pembasmi lalang seperti Roundup. Karena tidak ada anggaran, Ace dan pegawai lainnya patungan menyediakan obat tersebut.
“Kita butuh obat pembasmi lalang seperti Roundup, dari mana kita datangkan obat itu? Kita patungan, saya terutama yang menyediakan karena tidak ada anggaran. Mengapa saya bilang ini inovasi? Karena masyarakat di Desa Persiapan Poliwu ini mereka punya kerinduan dan semangat tinggi untuk penanaman padi karena lokasi itu lokasi penanaman padi dari zaman leluhur,” jelasnya.
Ace menegaskan bahwa program ini dijalankan secara ikhlas tanpa uang dengan tujuan mensejahterakan masyarakat. Ia ingin pegawai tidak hanya bekerja di balik meja, tetapi memberikan dampak nyata bagi masyarakat.
“Kita bergerak dengan kegiatan padi gogo ini secara ikhlas tanpa uang bergerak. Jadi tujuan kita itu untuk kesejahteraan masyarakat. Dan untuk pegawai kita tidak boleh berakhir walaupun dengan anggaran yang kecil, kita tidak hanya boleh berakhir di arsip-arsip surat tetapi ada sebuah tindakan yang harus kita lakukan yang masyarakat memang alami dampak langsung,” tegasnya. (*enos)









Komentar