Foto: Screenshot Sinode GPM TV
Ambon, Balobe.com – Gereja Protestan Maluku (GPM) menetapkan Visi Prinsip (VIP PRIP) sebagai pedoman misiologis baru yang mengangkat isu-isu aktual sesuai kondisi sosial, ekonomi, politik, budaya, agama, dan perkembangan teknologi di Maluku dan Maluku Utara. Penetapan ini menjadi hasil Sidang ke-39 Sinode GPM yang ditutup di Gereja Maranatha, Ambon, Sabtu malam (25/10/2025).
Ketua Majelis Pekerja Harian (MPH) Sinode GPM, Elifas Tomix Maspaitella, menyatakan gereja yang menjadi simbol kohesi masyarakat berbudaya, beradat, dan beragama di kepulauan Maluku ini tengah mempersiapkan diri menyongsong satu abad GPM pada 2035 dan Indonesia Emas 2045. “GPM menempatkan posisi dan peran misinya demi menghadirkan injil yang memanusiakan manusia di persada Nusantara,” ujar Maspaitella dalam arahannya.
GPM mengajak seluruh elemen sosial dan politik membangun konsolidasi untuk mewujudkan pembangunan merata di kepulauan Maluku. Maspaitella menyebut wilayah dari Tifuremayau sampai Ustutun harus menjadi kawasan andalan pembangunan, dengan menjadikan daerah pelosok dan pedalaman sebagai kekuatan ekonomi melalui pengelolaan terencana dan berkelanjutan terhadap potensi pangan dan ekonomi lokal. “Ini adalah hasil refleksi GPM atas realitas kemiskinan ironik yang kita alami di kedua provinsi ini,” katanya.
Dalam hal pengelolaan kemajemukan, GPM menekankan pentingnya pusat-pusat kota dan kabupaten sebagai ruang kohesi sosial. Gereja ini berkomitmen terus membingkai perdamaian dan persaudaraan lintas iman agar kota-kota menjadi laboratorium kehidupan damai yang memancarkan kedamaian dari Maluku ke seluruh dunia.
“Dahulu kota-kota kita menjadi bandar dagang rempah-rempah dan kolonialisme tumbuh di sini. Sekarang kita terpanggil merempahi dunia dengan wangi damai. Kita harus menjajah dunia dengan peradaban damai, suatu gerakan sejarah baru yang membuat Maluku dan Maluku Utara membungkusi dunia dengan kain gandong yang putih,” kata Maspaitella.
GPM juga menegaskan komitmennya menjaga perdamaian dan stabilitas bersama TNI/Polri demi kemajuan daerah dan bangsa. Gereja ini merawat nilai-nilai kearifan lokal seperti pela dan gandong yang tidak hanya mengikat sesama umat Kristen, tetapi juga dengan pemeluk Islam, Katolik, Hindu, Buddha, Konghucu, dan agama adat di Maluku dan Maluku Utara.
Maspaitella mengingatkan sumpah suci pela gandong dengan berbagai istilah lokalnya ngarful ngabal, Kalwedo, Kidabela, Sita Eka Tu, Kaiwai, Hibualamo, Sarumah sebagai ikatan persaudaraan satu rahim damai. “Mari kita berjanji takkan ada permusuhan. Kain gandong tetap putih mewangi. Tangan kita terbuka sambil memeluk. Inilah cinta dari rahim, dari tanah pusaka kita Maluku,” ujarnya.
Sidang ke-39 juga menyoroti berbagai persoalan sosial yang dihadapi masyarakat, mulai dari kemiskinan, konflik agraria, kerusakan lingkungan hidup, kehancuran ekosistem, keterasingan masyarakat adat dari tanahnya, rendahnya tingkat pendidikan, hingga ketidakmampuan keluarga untuk berobat. GPM mengajak seluruh pihak meningkatkan ketangguhan ekonomi setiap rumah tangga sebagai respons atas kondisi tersebut.
Kepada para gembala dan pelayan gereja, Maspaitella menyampaikan harapan jemaat yang menginginkan gereja tetap kudus dan dilayani dengan rendah hati. “Mereka tahu bahwa gereja tidak sempurna, tetapi mereka ingin gereja dilayani oleh gembala-gembala yang mau berserah kepada Roh Kudus, melayani dengan rendah hati, dan hadir langsung dalam kehidupan mereka serta menyelesaikan masalah mereka dengan rela habis, rela memberi diri,” katanya.
Sebagai penutup, Ketua MPH Sinode GPM menegaskan panggilan pelayanan gereja. “Jika jemaat begitu mencintai gereja, maka mari kita berikan kasih yang luas seperti kasih Kristus kepada mereka semua. Sebab untuk melayani saudara-saudara lah kami dipanggil oleh Kristus dan rela memberi diri sampai habis,” pungkas Maspaitella. (BN-26)









Komentar