Jemaat GPM Tiakur menyambut kedatangan Pendeta Yus Luan dengan penuh syukur. Prosesi dari dermaga hingga pastori menjadi saksi harapan baru pelayanan di wilayah perkotaan yang dinamis.
Tiakur, Balobe.com – Pagi Sabtu itu, angin laut membawa kabar sukacita. Di Dermaga SKPT Pantai Tiakur, puluhan warga Jemaat GPM Tiakur telah menanti sejak pagi hari. Mereka berkumpul bukan untuk sekadar menyambut, melainkan menjemput sebuah tradisi penuh makna dalam kehidupan jemaat. Pendeta Yus Luan bersama keluarga akan tiba, mengawali babak baru pelayanan di tengah umat yang penuh kerinduan.
Tepat pukul 08.00 WIT, (18/10/2025), sebuah kapal kayu tampak di laut. Kapal yang mengantarkan sang pendeta dari Jemaat GPM Serwaru itu perlahan merapat. Ketika tali pertama diikatkan di dermaga, sorak-sorai menggelegar. Wakil Ketua Majelis Jemaat GPM Tiakur, Daud Reimialy, bersama para perangkat pelayan dan umat menyambut dengan senyum lebar dan pelukan hangat.
Prosesi penjemputan itu kemudian berlanjut dengan arak-arakan. Pendeta Yus Luan dan keluarga di bawah menuju Gereja Eliora, pusat kehidupan rohani jemaat. Sepanjang jalan, nyanyian pujian berpadu dengan tiupan Trompet Eliora Music Brass. Sebagai penghormatan dan harapan.
Dari Gereja Eliora, rombongan melanjutkan perjalanan menuju Pastori II Jemaat GPM Tiakur, rumah yang akan menjadi tempat tinggal keluarga pendeta. Di halaman pastori, sejumlah ibu-ibu telah menyiapkan hidangan sederhana untuk menyambut kehadiran mereka.

Di tengah kehangatan itu, Daud Reimialy menyampaikan sambutan resmi. Suaranya lantang namun penuh ketulusan.
“Atas nama Majelis Jemaat, para pelayan, dan seluruh warga jemaat, kami menyampaikan selamat datang kepada Bapak beserta keluarga. Kami menerima dengan penuh sukacita dan doa. Pelayanan yang akan kita jalankan bersama di depan senantiasa menjadi berkat bagi sesama,” katanya.
Reimialy menambahkan, Jemaat GPM Tiakur memiliki tantangan tersendiri. Sebagai jemaat dengan wilayah pelayanan luas dan menjadi pusat aktivitas masyarakat perkotaan, dinamika kehidupan di Tiakur menuntut pelayan gereja yang tidak hanya kuat dalam iman, tetapi juga mampu menjawab kebutuhan zaman.
“Kami percaya Tuhan mengutus Bapak bukan tanpa rencana. Di tengah hiruk-pikuk perkotaan ini, kami butuh gembala yang bisa menuntun kami kembali pada esensi iman,” ujarnya.
Penjemputan seorang hamba Tuhan dalam tradisi gereja memiliki akar teologis yang kuat. Dalam Surat Roma 10:15 tertulis, “Betapa indahnya kaki mereka yang membawa kabar baik!” Ayat ini menjadi pengingat bahwa kehadiran seorang pelayan Tuhan adalah anugerah yang patut disambut dengan rasa syukur.
Pendeta Yus Luan, dengan wajah penuh ketenangan, merespons sambutan hangat itu dengan rasa rendah hati. Ia menyadari, tugas yang menanti bukanlah hal mudah, namun ia percaya pada panggilan Tuhan yang membawanya ke Tiakur.
Penjemputan telah usai, tetapi sebuah perjalanan baru baru saja dimulai. Di tangan seorang gembala dan di dalam hati sebuah jemaat, harapan itu kini tumbuh bahwa di tengah dinamisnya kehidupan perkotaan, firman Tuhan tetap menjadi kompas yang menuntun
(BN-26)
















Komentar