TIAKUR, Balobe.com – Kepala Unit Pelaksana Teknis Daerah Kesatuan Pengelolaan Hutan Maluku Barat Daya (UPTD KPH MBD) Ace Kelabora mengimbau masyarakat Pulau Moa untuk menghentikan penebangan liar dan meningkatkan upaya penanaman pohon. Imbauan ini dilatarbelakangi kondisi geografis Pulau Moa yang berada di daerah karang dengan tutupan hutan terbatas, sehingga rentan terhadap dampak perubahan iklim.
Kelabora menekankan pentingnya pohon sebagai benteng pertahanan alamiah dalam menghadapi bencana banjir dan kekeringan yang kini semakin sering terjadi. Ia menjelaskan bahwa satu pohon dewasa mampu menghasilkan 100 hingga 130 kilogram oksigen per tahun atau setara 274 liter oksigen per hari, yang cukup memenuhi kebutuhan pernapasan manusia. Pohon berukuran besar bahkan dapat memproduksi oksigen untuk dua hingga empat orang setiap hari.
“Mengapa harus menanam pohon? Karena pohon itu melindungi kita, pohon itu garda terdepan untuk kita waktu terjadi banjir, pohon itu menjadi penjaga. Terjadi kekeringan, pohon memberikan oksigen untuk melindungi kita,” ujar Kelabora kepada BalobeNews melalui telepon WhatsApp, Sabtu (25/1/2025).
Kelabora mengingatkan bahwa semakin besar ukuran pohon dan tajuk daunnya, semakin banyak oksigen yang dihasilkan. Dalam skala lebih luas, satu hektar hutan mampu menghasilkan berton-ton oksigen per tahun, menjadikannya paru-paru dunia yang sangat krusial bagi keberlangsungan kehidupan.
Kepala KPH MBD ini secara khusus menyoroti praktik penebangan liar yang masih terjadi di Pulau Moa. Ia memperingatkan bahwa kerusakan hutan akibat penebangan sembarangan akan membawa bencana bagi generasi saat ini dan masa depan.
“Mari semua masyarakat Pulau Moa, Kota Tiakur, mari kita menanam pohon karena kita tidak punya hutan yang luas, tidak banyak, karena kita berada di daerah karang. Berhenti melakukan penebangan secara liar, berhenti melakukan penebangan secara sembarangan,” tegasnya.
Kelabora mengingatkan bahwa dampak penebangan pohon tidak akan langsung terasa, namun akan menuai bencana di kemudian hari. “Hari ini kita menebang, tetapi sesungguhnya bencana itu akan datang kepada seluruh masyarakat dan juga termasuk Bapak Ibu yang menebang dan anak cucu,” jelasnya.
Sebagai upaya nyata mendorong gerakan penghijauan, KPH MBD telah menyalurkan bibit pohon secara gratis kepada warga gereja Jemaat GPM Tiakur. Kelabora berharap warga aktif memanfaatkan program pembagian bibit ini sebagai langkah awal memperbaiki kondisi lingkungan.
“Jadi dengan adanya anakan pohon yang dibagikan kepada masyarakat, mari menjemput bola. Mari jaga bumi, mari jaga alam, mari cintai bumi, mari cintai lingkungan,” ajaknya mengakhiri imbauan.(*enos)









Komentar