Tiakur, BalobeNews.com – Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Maluku Barat Daya meluncurkan proyek perubahan “Siapa Merasa” (Strategi Mengatasi Anak Putus Sekolah Melalui Kolaborasi Pentahelix) untuk menangani 485 anak putus sekolah yang tersebar di semua jenjang pendidikan. Proyek yang digagas Kepala Disdikbud MBD Roberth Japeky ini merupakan tugas akhir Pelatihan Kepemimpinan Nasional II Angkatan XVIII BPSDMD Provinsi Jawa Tengah Tahun 2025.
Data Dapodik menunjukkan distribusi anak putus sekolah tertinggi berada di jenjang SMA dengan 207 orang, disusul SMP 136 orang, SD 93 orang, dan SMK 49 orang, dengan penyebab utama budaya mempekerjakan anak dan perkawinan dini.
Proyek “Siapa Merasa” mengadopsi pendekatan pentahelix yang melibatkan lima unsur: pemerintah, akademisi, bisnis, komunitas, dan media dalam mengatasi kompleksitas masalah putus sekolah. Nama proyek ini dipilih untuk menarik perhatian dan mengundang kepedulian semua pihak terhadap nasib anak-anak yang terancam kehilangan hak pendidikannya.
Lokus penanganan difokuskan di Dusun Toinaman, Desa Wakarlely, Kecamatan Moa, sebagai pilot project yang akan dikembangkan ke wilayah lain. Pemilihan lokasi ini didasarkan pada tingginya angka putus sekolah dan kompleksitas permasalahan sosial ekonomi masyarakat di daerah tersebut.
Inovasi “Siapa Merasa” menerapkan strategi pemasaran sosial dengan konsep 4P1C (Product, Price, Place, Promotion, dan Customer) untuk memastikan program dapat diterima dan diimplementasikan secara efektif. Pendekatan ini menunjukkan bahwa penanganan masalah sosial memerlukan strategi yang sama sistematis dengan pengelolaan bisnis.
Kabupaten MBD sebagai daerah kepulauan dan perbatasan menghadapi tantangan khusus dalam bidang pendidikan, termasuk akses geografis yang sulit, keterbatasan fasilitas pendidikan, dan kondisi sosial ekonomi masyarakat yang masih bergantung pada sektor tradisional seperti perikanan dan pertanian.
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan MBD Roberth Japeky menjelaskan konsep di balik nama proyek tersebut. “Bukan hanya sekadar judul tetapi memiliki daya tarik, dengan tampilan logo yang dikemas memikat semua pihak terlibat guna mengambil keputusan bersama,” ungkapnya dalam rapat pentahelix di kantornya, Jumat (15/8/2025).
“Dengan demikian nilai ajakan untuk siapa saja merasa begitu peduli tentang anak putus sekolah di Kabupaten MBD guna bersama membangun komitmen mendukung inovasi ‘Siapa Merasa’,” lanjut Japeky sambil menekankan pentingnya kolaborasi multipihak.
Terkait implementasi, Japeky menjelaskan, “Inovasi ‘Siapa Merasa’ berhasil dibutuhkan 4P1C yaitu produk, price, place, promosi dan customer. Dibutuhkan juga landasan yuridis sehingga tidak diragukan. Lokus penanganan anak putus sekolah berada di Dusun Toinaman, Desa Wakarlely, Kecamatan Moa, Kabupaten MBD.”
Pj. Sekda MBD Daud Reimialy menegaskan keseriusan implementasi proyek ini. “Kiranya ini bukan hanya sebatas prasyarat sehingga menjadi sebuah tulisan tentang inovasi semata. Proyek perubahan ini menjadi sebuah tugas nyata yang mestinya diimplementasikan di lingkungan kerja. Membuktikan pemimpin yang visioner, adaptif, strategis, inovatif dan transformatif.”
“Upaya mengatasi anak putus sekolah perlu melibatkan keluarga, sekolah, masyarakat dan pemerintah secara terpadu. Karena penyebabnya beragam, mulai dari faktor ekonomi, lingkungan, hingga motivasi belajar,” tambah Reimialy.
Proyek “Siapa Merasa” lanjut Reimialy mencerminkan komitmen serius Pemerintah MBD dalam mengatasi masalah putus sekolah yang tidak hanya berdampak pada individu, tetapi juga pada kualitas sumber daya manusia daerah secara keseluruhan. Pendekatan pentahelix yang dipilih menunjukkan pemahaman bahwa masalah kompleks memerlukan solusi yang melibatkan semua stakeholder.
Keberhasilan pilot project di Dusun Toinaman akan menjadi indikator untuk replikasi program ke seluruh wilayah MBD. Dengan 485 anak yang perlu diselamatkan dari ancaman putus sekolah, proyek ini menjadi ujian nyata kemampuan pemerintah daerah dalam mengimplementasikan inovasi kebijakan yang berdampak langsung pada masyarakat.
Implementasi “Siapa Merasa” juga diharapkan dapat menjadi model bagi daerah kepulauan lainnya dalam mengatasi tantangan pendidikan di wilayah terpencil. Kolaborasi pentahelix yang solid akan menentukan apakah 485 anak di MBD dapat kembali merasakan bangku sekolah dan meraih masa depan yang lebih baik,”tutupnya dengan nada optimistis. (Tim Redaksi)









Komentar