Jakarta, balobe.com – Pasca terpilihnya Sujahri Somar sebagai Ketua Umum (Ketum) Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) bersama Sekretaris Jenderal (Sekjen) Amir Mahfut dalam Kongres XXII di Bandung, Jawa Barat, beredar kabar rencana penyelenggaraan kongres tandingan yang melibatkan sejumlah Dewan Pimpinan Daerah (DPD) dan Dewan Pimpinan Cabang (DPC) dari berbagai wilayah.
Duet Sujahri-Amir berhasil meraih kemenangan dengan dukungan 84 pemilik suara dalam kongres yang digelar di Bandung. Namun, kemenangan tersebut rupanya belum mampu meredam ketegangan internal organisasi kemahasiswaan tertua di Indonesia ini.
Dalam pidato kemenangannya, Sujahri Somar yang terpilih secara aklamasi menekankan pentingnya persatuan dalam tubuh GMNI. Ketua Umum terpilih ini memberikan apresiasi tinggi kepada seluruh delegasi yang hadir dalam kongres.
“Kehadiran teman-teman semuanya di sini mengkonfirmasi. Bukan sekedar teman-teman mengkonfirmasi pilihan politik teman-teman kepada saya, tetapi yang saya akui dan yang saya apresiasi dari teman-teman, kehadiran teman-teman disini, adalah mengkonfirmasi bahwa kita harus gandrung akan persatuan!” seru Sujahri Somar dalam pidatonya.
Meskipun demikian, dokumen internal yang beredar menunjukkan adanya skenario kongres tandingan yang telah disiapkan dengan struktur organisasi lengkap. Dokumen tersebut memuat rencana pembentukan pimpinan sidang pleno dan berbagai komisi yang akan diusung oleh DPD/DPC dari berbagai daerah.
Dalam dokumen yang dikutip dari lintasperlemen.com tersebut, terlihat pembagian tugas yang sistematis. Pimpinan sidang pleno tetap akan dipimpin oleh DPC GMNI Kapuas dengan dukungan DPD/DPC se-Kalimantan Tengah, Kalimantan Barat, dan Sulawesi Utara. Sementara itu, DPC GMNI Tanah Toraja akan didukung oleh DPD/DPC se-Nusa Tenggara Timur dan Sulawesi Selatan.
Untuk struktur komisi, dokumen tersebut merinci pembagian yang melibatkan berbagai wilayah. Komisi Organisasi akan dipimpin DPC GMNI Pontianak dengan dukungan dari Kalimantan Tengah, Kalimantan Barat, dan Jawa Barat. Komisi Kaderisasi akan dinahkodai DPC GMNI Depok, DPC GMNI Sinjai, dan DPC GMNI Gresik dengan dukungan dari wilayah masing-masing.
Dokumen internal tersebut juga mengatur teknis penyelenggaraan forum alternatif. Salah satu poin penting menyebutkan bahwa jika terjadi kekosongan pimpinan sidang pleno tetap, Badan Pekerja Kongres (BPK) akan masuk memberikan klarifikasi dan peserta forum dapat mengusulkan pemilihan pimpinan sidang ulang.
Menanggapi situasi ini, Sujahri Somar dalam pidatonya menegaskan bahwa kemenangan yang diraih bukan milik pribadi, melainkan milik seluruh kader GMNI se-Indonesia.
“Kemenangan ini bukanlah milik kami sendiri tapi kemenangan seluruh kader GMNI se-Indonesia. Dan dalam rangka melaksanakan agenda persatuan GMNI, kami berencana menjumpai Bung Risyad dan Bung Patra. Sehingga ketegangan dan perbedaan selama proses kongres berlangsung bisa kita akhiri dengan baik demi kepentingan GMNI, rumah yang kita cintai,” tegas Sujahri.
Beredarnya skenario kongres tandingan ini menunjukkan masih adanya dinamika internal dalam tubuh GMNI pasca penyelenggaraan Kongres XXII. Upaya rekonsiliasi yang dijanjikan Sujahri Somar dengan berbagai pihak, termasuk tokoh-tokoh yang disebutnya, menjadi kunci untuk menjaga keutuhan organisasi yang telah berusia puluhan tahun ini. (EW-26)









Komentar