Kesehatan
Home » Berita » Kasus HIV/AIDS di MBD Masih Tinggi, Jauh dari Target Eliminasi 2030

Kasus HIV/AIDS di MBD Masih Tinggi, Jauh dari Target Eliminasi 2030

TIAKUR, Balobe.com – Angka kasus HIV/AIDS di Kabupaten Maluku Barat Daya (MBD) masih tergolong tinggi dan belum mencapai target eliminasi nasional tahun 2030. Sepanjang 2025, tercatat 16 kasus baru HIV/AIDS dari 1.185 orang yang menjalani skrining di seluruh wilayah MBD. Total akumulasi pasien hingga 31 Desember 2025 mencapai 36 orang, dengan angka prevalensi berkisar 12 hingga 20 per 100.000 penduduk—masih jauh dari target Permenkes Nomor 23 Tahun 2022 yang menargetkan kurang dari 7 per 100.000 penduduk.

Data Klinik PDP HIV Melati RSUD Tiakur menunjukkan dari 1.185 orang yang menjalani skrining di puskesmas dan rumah sakit, 10 orang dinyatakan reaktif HIV. Enam warga MBD lainnya terdeteksi positif di luar daerah dan dirujuk kembali untuk berobat ke RSUD Tiakur. Selama 2025, delapan pasien meninggal dunia lima di antaranya merupakan pasien yang baru terdeteksi tahun lalu, sementara tiga pasien lainnya terdeteksi sebelum 2025.

Ketua Tim dan Penanggung Jawab Penanganan HIV/AIDS RSUD Tiakur, dr. Valda A. Laipeny, mengidentifikasi perilaku seks bebas dan berganti-ganti pasangan sebagai pemicu utama penularan. Faktor lain termasuk penggunaan jarum suntik tidak steril, transfusi darah, serta penularan dari ibu ke anak saat kehamilan dan persalinan. Kematian pasien umumnya terjadi akibat keterlambatan deteksi dan ketidakpatuhan menjalani pengobatan antiretroviral (ARV) yang harus dikonsumsi seumur hidup.

“Kematian pasien umumnya terjadi akibat keterlambatan deteksi, kondisi sudah berada pada stadium lanjut atau ketidakpatuhan dalam menjalani pengobatan antiretroviral (ARV) yang harus diminum seumur hidup,” ungkap Laipeny saat ditemui di RSUD Tiakur, Selasa (27/1/2026).

Dengan estimasi penduduk MBD sekitar 80.000 jiwa, prevalensi HIV di kabupaten kepulauan ini berada dua hingga tiga kali lipat dari target eliminasi nasional. Laipeny menjelaskan, HIV adalah virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh dan sering tidak menimbulkan gejala pada tahap awal. Seseorang yang terinfeksi namun belum menunjukkan gejala disebut ODHIV (Orang Dengan HIV). Jika virus berkembang hingga muncul berbagai infeksi dan gejala berat, kondisi tersebut disebut AIDS dengan empat stadium keparahan.

Bupati Noach: Tak Boleh Ada Diskriminasi Pasien BPJS di Fasilitas Kesehatan

“Jika terdeteksi secara dini dan pasien patuh minum obat, kualitas hidup penderita bisa sangat baik dan tetap produktif seperti orang sehat pada umumnya,” ujar Laipeny.

Ia menekankan pentingnya dukungan keluarga dan masyarakat terhadap ODHIV serta menghindari stigma dan diskriminasi. HIV tidak menular melalui kontak sosial seperti makan bersama, duduk bersama, atau berbincang. Meski obat ARV tersedia gratis dari pemerintah, tantangan terbesar adalah akses layanan kesehatan, terutama bagi pasien di wilayah kepulauan.

Untuk menekan laju penyebaran, Laipeny mengajak pemerintah dan masyarakat mengampanyekan perilaku hidup sehat, kesetiaan pada satu pasangan, penggunaan kondom yang benar, serta menjamin ketersediaan layanan pemeriksaan HIV yang mudah diakses. Ia berharap seluruh pemangku kepentingan di MBD bersinergi dalam pencegahan dan penanganan HIV/AIDS serta memastikan keberlanjutan penyediaan obat ARV.

“Kami juga mengimbau para pasien untuk tetap tenang, patuh berobat, tidak putus obat dan mengelola stres dengan baik. Dengan pengobatan teratur, HIV bisa dikendalikan dan kualitas hidup tetap terjaga,” pungkasnya. (*enos)

Jaspel Dihapus, Nakes Puskesmas MBD Ancam Mogok Kerja

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

× Advertisement
× Advertisement