TIAKUR, Balobe.com – TIGA kapal penumpang terpaksa membuang sauh di tengah ketidakpastian cuaca. Di Pelabuhan Kabupaten Maluku Barat Daya, kondisi perairan yang memburuk memaksa otoritas kepelabuhanan mengeluarkan keputusan penundaan keberangkatan. Gelombang tinggi dan angin kencang yang mulai melanda sejak Minggu (23/3/2026) menjadi penyebab utama tertahannya tiga armada kapal yang melayani rute kepulauan terpencil di wilayah MBD.
Penilik Kelaiklautan Kapal Kantor UPP Kelas III Wonreli, Engel Soplanit, membenarkan kondisi tersebut saat ditemui BalobeNews di ruang kerjanya, Selasa (24/3/2026). Ia menjelaskan bahwa keputusan penundaan keberangkatan diambil demi menjamin keselamatan penumpang dan awak kapal, mengingat cuaca buruk diperkirakan masih akan berlangsung hingga sekitar lima hari ke depan.

Sumber: BalobeNews
Kapal Sabuk Nusantara 73 dengan tonase GT 20.097, yang sedianya bertolak menuju Dermaga Pelabuhan Letti, saat ini masih berlabuh di Moain menunggu cuaca kondusif. Sementara itu, Kapal Sabuk Nusantara 60 bertonase GT 1.171 masih berada di Pulau Luang dengan keberangkatan yang belum dapat dipastikan waktunya.
Sementara KM Cantika Lestari 77B seharusnya bertolak kemarin, namun angin kencang memaksa penundaan. Keberangkatan dijadwalkan ulang pada 6 April 2026. Penumpang diimbau memantau informasi resmi dari UPP Kelas III Wonreli.
“Kapal keluar tergantung cuaca. Tiga kapal saja yang kami tunda keberangkatannya sementara kapal yang lain, kami tidak tahu posisinya di mana,” ujar Soplanit
Pernyataan Soplanit juga menyentuh keterbatasan informasi yang dihadapi pihak UPP. Ia mengakui bahwa dari sejumlah kapal yang beroperasi di wilayah perairan MBD, hanya tiga kapal tersebut yang statusnya dapat dipantau dan dikonfirmasi secara resmi. Untuk kapal-kapal lainnya, koordinasi posisi menjadi tantangan tersendiri di tengah kondisi cuaca yang tidak bersahabat.

Sumber: BalobeNews
Penundaan ini terjadi di tengah masa sibuk arus mudik dan arus balik Lebaran 2026. Kondisi cuaca yang memburuk justru berpotensi memperparah kepadatan penumpang yang menumpuk di pelabuhan, mengingat Posko Lebaran di UPP Wonreli baru akan resmi ditutup pada 31 Maret 2026.
Data UPP Wonreli mencatat kenaikan signifikan pada arus mudik Lebaran 2026. Jika tahun lalu angka arus mudik dan balik berada di kisaran 60 persen, tahun ini melonjak menjadi 70 persen naik 10 persen dibanding periode yang sama tahun 2025. Lonjakan ini menjadi tantangan tambahan di tengah situasi cuaca yang belum memungkinkan pelayaran optimal.
Soplanit mengimbau seluruh calon penumpang untuk senantiasa memantau perkembangan informasi cuaca dan jadwal keberangkatan kapal melalui pihak berwenang sebelum menuju pelabuhan. Keselamatan jiwa di laut, tegasnya, tidak dapat dikompromikan dengan alasan apapun, termasuk desakan jadwal perjalanan musim mudik.
BALOBE.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung BALOBE.com di Akun Media Sosial dan di Whatsapp Chanel sekarang










Komentar