Daerah
Home » Berita » DLH Gandeng AMGPM Atasi Krisis Sampah 1,1 Ton Per Hari

DLH Gandeng AMGPM Atasi Krisis Sampah 1,1 Ton Per Hari

Tiakur, BalobeNews.com – Pulau Moa di Kabupaten Maluku Barat Daya menghadapi ancaman serius krisis sampah dengan produksi mencapai 1,1 ton setiap harinya. Dinas Lingkungan Hidup MBD memperingatkan dalam 10 tahun ke depan, pulau seluas 959,68 km² dengan populasi 7.245 jiwa ini tidak mampu menampung tumpukan sampah jika tidak dikelola dengan baik.

Sosialisasi upaya pencegahan pencemaran lingkungan dan penanganan sampah digelar Kamis (21/8/2025) usai Kebaktian AMGPM dengan melibatkan Angkatan Muda Gereja Protestan Maluku (AMGPM) sebagai mitra strategis dalam mengatasi permasalahan lingkungan yang mengancam kawasan konservasi di pulau tersebut.

Data mengejutkan terungkap dalam sosialisasi tersebut: setiap penduduk Pulau Moa menghasilkan rata-rata 0,49 kilogram sampah per hari. Angka ini menunjukkan tren peningkatan yang mengkhawatirkan bagi kelestarian lingkungan pulau yang memiliki banyak kawasan konservasi.

Ancaman nyata sudah terlihat di Pantai Syota dimana ditemukan 40 persen sampah plastik keras menumpuk di kawasan tersebut, mengancam keberlanjutan dan kelestarian lingkungan pesisir. Sampah plastik yang membutuhkan waktu puluhan tahun untuk terurai menjadi ancaman jangka panjang bagi ekosistem laut dan darat.

Kondisi ini semakin diperparah dengan keterbatasan fasilitas pengelolaan sampah yang ada. Dinas Lingkungan Hidup MBD melalui bidang kebersihan dan persampahan mengakui tidak dapat bekerja sendirian dalam mengatasi permasalahan kompleks ini.

DPRD MBD: THR ASN Tertunda Dibayar Awal Mei

Kawasan konservasi yang menjadi kebanggaan Pulau Moa kini terancam tercemar sampah akibat sistem pengelolaan yang belum optimal. Hal ini berpotensi merusak ekosistem yang telah dijaga selama bertahun-tahun.

 

Corneles Walalayo dari Bidang Amdal Lingkungan Hidup Kabupaten MBD menegaskan urgensi situasi ini. “Di Dinas Lingkungan Hidup ada dua bidang: bidang kebersihan dan persampahan. Kita dari penyuluh berpikir bahwa kita tidak bisa kerja sendiri karena, kita berpikir bahwa Angkatan Muda Gereja Protestan Maluku garda terdepan di daerah ini.”

“Kita berharap bahwa semoga kita menjadi mitra dengan AMGPM untuk melihat sampah di Pulau Moa jadi, kalau bukan katong siapa lai katong pung daerah ini,” lanjut Walalayo dengan nada mendesak.

Dinas PUTRPKP Kabupaten MBD Bangun SPAM dan Kantor Camat

Walalayo memberikan peringatan keras tentang masa depan pulau. “Suatu saat nanti 10 tahun Pulau Moa tidak bisa menampung sampah yang begitu banyak kalau tidak dikelola dengan baik. Jadi kita selaku AMGPM dan pihak lingkungan hidup tidak punya pemikiran untuk bergerak maka bisa kita hidup di atas sampah.”

“Pulau Moa memiliki banyak kawasan konservasi yang harus dilindungi agar tidak tercemar sampah, namun sampah yang tidak terkelola dengan baik bisa berakhir di lingkungan, termasuk dekat kawasan konservasi,” tegas Walalayo.

“Kami berharap dari Ranting ini ada satu komoditas lingkungan yang bisa sama-sama dengan kita bergerak untuk peduli terhadap lingkungan kita. Kita bisa menjadi mitra, kita sama-sama mengadvokasi tentang lingkungan ini bersama. Karena sampah menjadi musuh kita bersama,” katanya.

 

GAMKI- GMKI MBD Dukung Pengembangan Proyek Blok Masela

Kolaborasi lanjutnya antara Dinas Lingkungan Hidup MBD dengan AMGPM menjadi langkah strategis menghadapi krisis sampah yang mengancam Pulau Moa. Dengan produksi sampah 1,1 ton per hari dan proyeksi peningkatan dalam 10 tahun mendatang, tindakan cepat dan terkoordinasi mutlak diperlukan.

Ancaman terhadap kawasan konservasi dan ekosistem laut menunjukkan dampak jangka panjang yang serius jika permasalahan ini tidak ditangani segera. Kemitraan dengan organisasi keagamaan dan masyarakat diharapkan dapat menjadi model pengelolaan sampah berbasis komunitas yang efektif untuk daerah kepulauan,” pungkasnya mengakhiri. (EW-26)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

× Advertisement
× Advertisement