Jerih Payah Nelayan Pembudidaya di Tanah Perjanjian Menghadapi Realitas Ekonomi yang Keras.
Luang Barat, Balobe.com – Matahari baru saja mengintip di ufuk timur ketika perahu-perahu kecil sudah membelah permukaan laut Luang Barat. Para pembudidaya rumput laut memulai hari mereka seperti biasa menengok tali-tali bentangan yang penuh harapan. Di balik hamparan biru yang tenang, tersimpan ironi: laut yang berlimpah, hidup yang pas-pasan.
Luang Barat, sebuah wilayah yang dikenal sebagai Tanah Perjanjian, mewarisi kekayaan laut yang turun-temurun. Rumput laut, ikan, lola, batu laga, teripang semuanya tersedia berlimpah. Namun kekayaan alam itu juga tidak menjamin kesejahteraan. Adat dan budaya yang kuat di kampung ini dipadukan dengan realitas ekonomi yang keras.
Setiap hari, masyarakat Luang Barat menggantungkan hidup pada budidaya rumput laut. Pekerjaan ini bukanlah sekedar rutinitas, melainkan perjuangan untuk bertahan. Dari hasil panen itulah mereka mengupayakan sesuap nasi, biaya pendidikan anak-anak, hingga ongkos berobat ke puskesmas.
“Kalau tidak kerja hari ini, besok tidak makan. Anak-anak sekolah butuh uang. Begitu terus,” ujar Mama Neni, salah satu penggarap rumput laut yang telah menggeluti pekerjaan ini lebih dari sepuluh tahun. Tangannya yang kasar menceritakan banyak hal tentang air laut yang asin, terik matahari, dan harapan yang tak pernah surut meski sering kali kandas.
Proses budidaya rumput laut memang tidak mudah. Dari menanam bibit di bentangan tali, merawat selama berminggu-minggu, hingga memanen dan menjemur di bawah terik matahari. Semuanya dilakukan dengan kerja keras fisik. Belum lagi risiko cuaca buruk yang bisa menggagalkan panen.
Yang lebih menyakitkan adalah harga jual yang tak sebanding dengan jerih payah. Di pasaran, rumput laut kering atau agar-agar hanya dihargai Rp 12.000 per kilogram. Angka yang jauh dari kata layak, apalagi mengingat tenaga dan waktu yang dikorbankan.
“Harga segitu sudah bertahun-tahun. Kami terima saja karena tidak ada pilihan lain. Pedagang besar yang untung, kami yang di kampung dapat sedikit saja,” keluh Bapak Robi, nelayan sekaligus pembudidaya yang juga menjadi kepala keluarga dengan empat anak.
Ketimpangan ini mencerminkan rantai ekonomi yang tidak adil. Rumput laut dari Luang Barat akan melewati beberapa tangan perantara sebelum sampai ke pabrik pengolahan atau pasar ekspor, di mana harganya bisa berlipat ganda. Sementara para pembudidaya di garis depan justru menjadi pihak yang paling lemah dalam tawar-menawar.
Di tengah keterbatasan, masyarakat Luang Barat tetap mempertahankan budaya dan kearifan lokal mereka. Laut bukan hanya sumber penghidupan, tetapi juga bagian dari identitas dan warisan leluhur. Mereka menjaga laut dengan cara tradisional, tidak serakah mengambil hasil alam.
Namun, menjaga tradisi saja tidak cukup untuk mempertahankan tantangan zaman. Tanpa intervensi yang tepat seperti pembinaan koperasi, akses pasar yang lebih baik, atau penetapan harga dasar yang adil nasib para pembudidaya rumput laut Luang Barat akan terus bergulat dengan angka Rp 12.000 per kilogram itu.
Matahari mulai terbenam. Perahu-perahu kembali merapat ke bibir pantai. Para pembudidaya pulang dengan lelah, membawa hasil panen yang cukup atau tidak untuk kebutuhan besok. Di Tanah Perjanjian yang kaya raya ini, harapan mereka masih terombang-ambing di atas ombak yang sama seperti tali-tali rumput laut yang mereka bentangkan setiap pagi.
(BN-26)
















Komentar