Tiakur, BalobeNews.com – Jemaat GPM Tiakur menggelar perayaan puncak HUT ke-90 Gereja Protestan Maluku dengan pesan penguatan persekutuan keluarga dan perdamaian di tengah kondisi bangsa yang “tidak baik-baik saja” di Walang PHBG Kampung Babar, Sabtu (6/9/2025). Ketua Majelis Jemaat GPM Tiakur Pendeta F. Lawa meneruskan amanat Ketua Sinode GPM untuk memperkuat pembinaan keluarga dan menjaga perdamaian sebagai respons spiritual terhadap tantangan nasional.
Perayaan yang mengusung tema “Gereja yang Menabur, Bertumbuh dan Berbuah Karena Kasih Tuhan” ini melibatkan 12 sektor dan 38 unit pelayanan dengan anggaran Rp 51 juta yang dikumpulkan melalui swadaya jemaat.
Perayaan HUT ke-90 GPM ini berlangsung dalam konteks yang penuh makna, tidak hanya sebagai refleksi perjalanan gereja sejak deklarasi kemandirian pada 6 September 1935, tetapi juga sebagai respons spiritual terhadap kondisi sosial politik nasional yang sedang bergejolak. Pendeta F. Lawa menekankan bahwa kemerdekaan GPM dalam aspek konvensi, liturgi, dan keuangan menjadi dasar untuk terus menyebarkan “berita injil yang membebaskan.”
Panitia Hari-Hari Besar Gerejawi (PHBG) yang dipimpin Simon Rumahlewang berhasil mengorganisir berbagai kegiatan mulai dari pemeriksaan kesehatan gratis, lomba tradisional, hingga pertunjukan seni dengan keterbatasan ekonomi yang signifikan. Total anggaran Rp 51 juta diperoleh dari stimulan panitia Rp 10 juta, usaha dana Rp 21 juta, dan sumbangan jemaat Rp 20 juta.
Rangkaian acara puncak menampilkan perpaduan antara tradisi dan modernitas, mulai dari paduan suara dewasa campuran, persembahan pujian solo Dr. Keterina Tiwery, tarian obor dan tarian semesta oleh anak-remaja, hingga drama musikal AMGPM Cabang Eliora. Pemotongan tumpeng oleh para pendeta dan pembagiannya kepada berbagai unsur jemaat melambangkan semangat kebersamaan lintas generasi.
Pesan yang disampaikan dalam perayaan ini tidak hanya bersifat internal gerejawi, tetapi juga responsif terhadap kondisi sosial politik nasional. Ajakan untuk memperkuat persekutuan keluarga dan menjaga perdamaian menjadi relevan di tengah polarisasi yang terjadi di tingkat nasional.

Ketua Majelis Jemaat GPM Tiakur Pendeta F. Lawa menyampaikan refleksi mendalam tentang makna 90 tahun GPM. “Sejak 6 September 1935 GPM telah menyatakan sikapnya untuk menjadi gereja yang mandiri secara konvensi atau pengakuan iman, liturgi, dan keuangan sekaligus sebagai keputusan etis untuk terus menyebarkan berita injil yang membebaskan itu.”
“90 tahun usia GPM menandakan bahwa anugrah Allah nyata dalam kehidupan kita baik selaku umat, pelayan, tetapi juga gereja ini secara lembaga. Kita telah melewati masa-masa berat yang melaluinya kita dibentuk menjadi persekutuan yang tangguh,” ungkap Pendeta Lawa.
Terkait kondisi bangsa saat ini, ia meneruskan pesan dari Ketua Sinode GPM. “Kita merasakan sukacita ini di tengah-tengah kondisi bangsa dan negara yang sedang tidak baik-baik saja. Karenanya beta meneruskan pesan dari Ketua Sinode GPM agar semua kita kembali di tengah-tengah persekutuan keluarga laksanakan pembinaan keluarga, hidupkanlah doa di dalam rumah-rumah sebagai rumah doa.”
“Hiduplah dalam cinta kasih dengan semua orang, jaga perdamaian yang telah Tuhan limpahkan sebagai anugerah suci bagi tanah dan negeri kita, dalam segala sesuatu bersyukurlah kepada Tuhan,” pungkas Pendeta Lawa.

Ketua PHBG Simon Rumahlewang dalam laporannya mengakui keterbatasan yang dihadapi. “Di tengah-tengah kondisi ekonomi saat ini tentu panitia mendapat tantangan tersendiri untuk memastikan bahwa setiap kegiatan yang akan dilakukan oleh panitia berjalan dengan lancar. Dan kami yakin dengan sungguh bahwa Tuhan tidak pernah meninggalkan kami.”
“Panitia menyadari bahwa keberhasilan setiap kegiatan bukan semata-mata karena usaha dan kemampuan kami melainkan sepenuhnya karena pertolongan Tuhan yang bekerja melalui doa, dukungan dan kerja keras bagi seluruh jemaat,” tambah Rumahlewang. (EW-26)















Komentar